Kamis, 11 November 2010

rock climbing

TEKNIK ROCK CLIMBING

1. Pendahuluan
Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Cilmbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja. Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing itu sendiri.


2. Sejarah Rock Climbing
Pada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung dimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat kesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dan tebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan dan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejenis kambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor mata pencaharian.
Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilah cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.
Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.
Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia. Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilah patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
3.Teknik Rock Climbing
Dikenal dua jenis teknik pemanjatan rock climbing, yaitu artificial climbing dan free climbing.
a. Artificial Climbing
Artificial climbing adalah teknik peanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan selain untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh), juga di gunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi petualangan yang pemanjatannya menggunakan jalur yang panjang dan proses pemanjatannya memakan waktu yang lama (berhari-hari).

b.Free Climbing
Free climbing adalah teknik pemanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan hanya untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh) tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi prestasi dan olah raga. Free climbing umumnya menggunakan jalur-jalur yang pendek dan singkat.

4. Taktik Pemanjatan
Dalam rock climbing ada dua taktik pemanjatan,yaitu Himalayan Tactic dan Alpin Tactic
a.Himalayan Tactick
Himalayan Tactic adalah taktik pemanjatan tebing dengan cara menghubungkan antara base camp dengan tim pemanjat melalui tali. Perlengkapan dan logistik bisa dikirim secara estafet dari base camp ke tim pemanjat.
b.Alpin Tactic
Alpin Tactic adalah taktik pemanjatan tebing tanpa berhubungan lagi dengan base camp. Semua kebutuhan tim (peralatan dan logistik) tim pemanjat dibawa terus oleh tim pemanjat.
Seorang pemanjat tebing dituntut untuk berani, teliti dan berkemampuan menganalisa tinggi, yaitu berpikir dan bertindak cepat dan tepat pada saat kritis. Pemanjat tebing wajib memiliki mental baja dan ketahanan fisik yang besar. Selain itu juga harus memiliki kelenturan tubuh, dan penguasaan teknik yang benar. Karena hal-hal itu merupakan dasar dari panjat tebing.
5. Pengaman ( Ancor)
Rock climbing merupakan suatu kegiatan yang beresiko tinggi (high risk),oleh kerenaitu dibutuhkan suatu pengmanan untuk mengurangi atau meminimalisir resiko yang akan timbul. Pada dasarnya pengaman (ancor) dalam rock climbing dikelompokan menjadi 3 kelompok,yaitu :
1. Pengaman tubuh
Pengaman tubuh, yaitu pengaman yang langsung menempel pada tubuh pemanjat, diantaranya :
a. Tali Kernmantel
Kegiatan rock climbing membutuhkan tali yang kuat, ringan, lentur, tidak mudah basah, cepat kering dan mudah dibawa-bawa. Biasanya para penggiat rock climbing menggunakan tali kernmantel dynamic berdiameter 9 atau 11 mm karena memenuhi persyaratan di atas.
b. Harness
Adalah alat pengaman yang mengikat tubuh kita (sabuk pengaman). Ada tiga macam harness yang biasa digunakan, yaitu : Seat Harness (harness yang bertumpu pada pinggul),Chest Harness (harness yang bertumpu pada dada) dan Full Body Harness (harness yang bertumpu pada dada, punggung, pinggul dan paha).

Gambar seat harness

Gambar Chest harness
c. Helm (Hard Hat)
Seorang penggiat rock climbing dianjurkan menggunakan helm dalam melakukan pemanjatan. Hal ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dari atas atau jika pemanjat terjatuh.

Gambar Helm
d. Simpul (knot)
Pada rock climbing terdapat banyak simpul yang sering digunakan,namun simpul yang langsung berhubungn dengan tubuh,yang di rekomendasikan adalah simpul delapan ganda.

e. Carrabiner
Carrabiner disebut juga krab atau Snaplink adalah cincin kait yang terbuat dari alumunium alloy yang bentuknya beragam dan mempunyai gate yang berfungsi sebagai peniti dan mempunyai kekuatan yang bervariasi tergantung pada beberapa hal antara lain bahan, bentuk, penampang lintang dan pintunya. Ada dua macam carrabiner yaitu Carrabiner Screw Gate (bepengunci) dan Carrabiner Non Gate / Snap Gate (tidak berpengunci).Adapun standart kekuatan carrabiner yang direkomendasikan oleh UIAA (badan panjat tebing dunia) adalah 2000 kg.

2. Pengaman Alam (Natural Ancor)
Pengaman alam yaitu pengaman yang sudah ada pada tebing secara alami dan dapat dimanfaatkan menjadi pengaman. Diantaranya :
a. Lubang Tembus
Lubang tembus biasanya berupa lubang atau rongga pada tebing. Adapun kriteria lubang tembus yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah

· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinys tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar lubang tembus
b. Batu Tanduk
Batu tanduk biasanya berupa tonjolan yang menyerupai tanduk pada tebing. Adapun kriteria batu tanduk yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah:
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinya tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar batu tanduk
c. Pohon dan Akar
Dalam hal ini pohon atau tumbuhan yang menempel / tumbuh pada tebing. Adapun kriteria pohon dan akar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Pohon atau tumbuhannya masih hidup
· Solid atau dalam kesatuan tebing
3. Pengaman Buatan (Artificial Ancor)
Pengaman buatan adalah pengaman yang diciptakan oleh manusia guna menunjang keamanan dalam kegiatan rock climbing. Pengaman buatan ini terbagi atas 4 kelompok, yaitu :
a. Piton (Pasak atau Paku Tebing)
Piton adalah sepotong logam yang dibentuk agar berfungsi sebagi pasak celah tebing batu. Piton kebanyakan dibuat dari baja kromalin. Secara umum piton terbagi menjadi dua macam, yaitu piton bilah atau pipih (blade) dan piton siku (angle). Dari dua macam piton ini berkembang menjadi bermacam-macam bentuk piton yang disesuaikan dengan bentuk celah di tebing batu.

Gambar Piton Angle Gambar Piton Blade
b. Chock (Pengaman Sisip)
Chock adalah alat penahan beban dari arah tertentu yang diselipkan ke dalam celah batu. Chock mempunyai dua bentuk, yaitu : asimetris / tidak simetris,contohya segi enam (hexentric) dan simetris,conyohnya baji (stopper).

Gambar Chock ( Stopper )

Gambar Chock (Hexentric )
c. Pengaman Sisip Pegas (Friend)
Friend adalah sebuah alat penjepit yang manggunakan pegas, yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi chock. Ukuran friend bermacam-macam menyesuaikan dengan berbagai ukuran celah batu.

Gambar friend
d. Baud (Bolt) / Pengaman Tetap
Bolt ini ditanamkan kedalam tebing dan diberi pengait (hanger) dengan menggunakan alat bantu bor tangan (hand drill). Pengaman sifatnya permanen.

Gambar handrill dan hanger
6. Simpul-simpul yang sering digunakan dalam pemanjatan
Adapun simpul-simpul yang biasa digunakan di dalam proses pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Simpul Delapan Ganda :
Digunakan untuk simpul ke tubuh dan penambatan.

2. Simpul Belay :
Digunakan untuk mem-belay dan rappeling.

3. Simpul Jerat :
Digunakan untuk menjerat pengaman.

4. Simpul Pita :
Digunakan untuk menyambung tali yang pipih (webbing).

5. Simpul Pangkal :
Digunakan di dalam penambatan.

6. Simpul Fisherman :
Digunakan untuk menyambung dua tali yang berbeda.


7. Simpul Kambing/Bowline :
Digunakan untuk mengikat barang yang akan di angkat ke atas.

7. Alat Pendukung
Ascender dan Descender
Ascender adalah alat penjepit tali yang berfungsi untuk menahan beban. Prinsip kerjanya adalah dapat menjepit tali kjika terbebani dan aka mengendur jika tidak terbebani.
Descender adalah alat yang berfungsi untuk membantu memberi gesekan pada waktu pemanjat menuruni tebing dengan tali. Dengan begitu, kecepatan turun dapat dikontrol dengan mudah. Biasanya digunakan untuk rappeling atau belaying.
Sling
Sling berguna untuk membuat pengaman maupun memperpanjang runner. Sling dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Rope Sling yang terbuat dari tali dan Tape Sling yang terbuat dari pita nilon (webbing). Diameter rope sling berkisar antara 7 sampai 9 mm. Sedangkan tape sling biasanya berukuran 1 inci. Kedua macam sling ini mempunyai kegunaan masing-masing. Pada pinggiran batu yang tajam, webbing dapat tersayat, sehingga rope sling lebih dianjurkan. Sedangkan pada celah sempit, tape sling lebih berguna daripada rope sling.

Gambar sling
Sepatu Panjat
Sepatu memanjat tebing mempunyai ciri-ciri khusus. Ringan dan bagian tapaknya terbuat dari karet yang cukup keras dan kaku yang berfungsi sebagai tumpuan gesekan yang maksimal terhadap pijakan permukaan tebing yang tipis.

Gambar Sepatu Panjat
Hammer
Palu yang digunakan dalam pemanjatan tebing batu sedikit berbeda dengan palu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Kepala palu harus labih berat dari ekor palu yang berbentuk runcing, yang dapat digunakan untuk mencongkel atau mengungkit alat-alat penahan beban (pengaman buatan).

Gambar Hammer
Webbing
Webbing adalah pita yang terbuat dari bahan nilon yang mempunyai fungsi yang hampir sama dengan tali. Alat ini biasa digunakan untuk sling, tangga gantung dan sebagainya.
Etrier atau Stirrup
Etrier atau Stirrup (tangga gantung) adalah alat yang biasa digunakan dalam pemanjatan artificial. Etrier biasanya terbuat dari webbing atau dari logam aluminium. Dengan alat ini, proses pemanjatan akan emnjadi lebih mudah. Karena alat ini dapat dijadikan pijakan untuk menambah ketinggian dimana sudah tidak ada lagi cacat tebing yang dapat dipijak.

Gambar Etrier atau stirrup
Chalk Bag
Chalk bag adalah kantong kapur yang berisi magnesium carbonat, ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan.

Gambar chalk bag
Prusik
Prusik adalah tali karnmantel yang berukuran antara 4 – 6 mm. Biasanya berfungsi sebagai pengganti ascender dan sling.

Gambar prusik
Choker
Choker adalah alat bantu untuk membuka atau melepaskan pengaman buatan. Choker terbuat dari bahan plat ± 3 mm dengan panjang ± 30 cm. Salah satu ujungnya berbentuk seperti ekor kucing yang berfungsi untuk mencongkel atau mengungkit alat alat penahan beben (pengaman buatan).
8. Klasifikasi Pengaman
Pada prekteknya terdapat juga klasifikasi pengaman menurut sifat dan fungsinya, yaitu :
a) pengaman emas :
berarti pengaman bersifat baik sekali. Sangat baik digunakan sebagai penambatan.
b) pengaman perak :
berarti pengaman bersifat baik. Digunakan untuk pengaman selama pemanjatan.
c) pengaman perunggu :
Sifatnya kurang baik. Biasanya digunakan untuk menambah ketinggian.
d) pengaman pengunci
Sifatnya baik sekali (emas). Digunakan sebagai pengaman urutan pertama yang befungsi sebagai tahanan terakhir pada saat jatuh.
9. Penambatan
Penambatan adalah proses tahapan pemanjatan untuk melanjutkan pitch berikutnya (1 etape pemanjatan) atau berganti leader. Syarat penambatan :
a) Memiliki 2 atau lebih pengaman yang bernilai emas.
b) Menggunakan carrabiner screw untuk menambat.
c) Simpul yang dipakai adalah simpul jerat/tambat (untuk pengaman ke tubuh) dan di back up oleh simpul delapan ganda.

10. Pengenalan Prosedur Pemanjatan
Dalam suatu kegiatan alam bebas, menyusun suatu perencanaan merupakan suatu hal yang penting. Bidang rock climbing merupakan kegiatan yang sangat memerlukan tata cara dan prosedur yang tepat agar proses pemanjatan menjadi lancar dan aman.
Prosedur pemanjatan yakni :
Orientasi Jalur
Orientasi jalur merupakan permulaan yang penting dari sebuah pemanjatan. Pemilihan jalur dapat dilakukan melalui data, literatur, informasi dari orang lain atau pengamatan langsung.
Di dalam orientasi jalur, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a) Memperkirakan tinggi tebing, menentukan jenis batuan, menentukan berapa pitch yang akan dilakukan.
b) Menentukan titik awal pemanjatan.
c) Menentukan jenis alat-alat yang akan digunakan.
d) Memperkirakan penempatan anchor (tambatan) untuk istirahat, pergantian leader untuk hanging belay juga hanging bivoack.
2. Pembagian Personil / Manajemen Tim
Pembagian personil dilakukan berdasarkan :
a) Jumlah personil keseluruhan.
b) Kemempuan personil.
c) Jalur yang akan digunakan.
d) Sistem pemanjatan.
e) Ketersediaan alat.
3. Persiapan Peralatan
Peralatan yang akan dipakai disusun dengan rapi dan sistematis. Ini membantu pemanjat dalam menggunakan alat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi alat yaitu :
a) Jenis batuan.
b) Cacat batuan.
c) Kemampuan leader.
d) Pengaman yang tersedia.
4. Persiapan Pemanjatan
Setelah semua peralatan telah siap, maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu adalah komunikasi, apalagi antara leader dan belayer. Tetapi perlu diingat untuk menjaga energi, jangan sampai energi habis karena kita berteriak-teriak. Jadi sebaiknya menggunakan alat komunikasi, seperti handy talky.
5. Memulai Pemanjatan
Leader melakukan pemanjatan hingga pitch 1 yang telah direncanakan sebelumnya. Lalu memasang fixed rope (tali tambat) dari tali baru yang dibawanya yang dapat digunakan sebagai transport orang kedua.
6. Cleaning
Setelah leader menyelesaikan pitch 1, orang kedua bersiap untuk menyusul ke pitch 1 dengan menggunakan fixed rope. Sambil memanjat/jumaring orang kedua (cleaner) ini membersihkan runner-runner yang dipasang oleh leader, agar alat-alatnya dapat digunakan untuk pemanjatan selanjutnya (ke pitch 2).
Tugas cleaner :
a) Membersihkan jalur dan menyapu runner.
b) Mencatat pengaman yang akan digunakan selanjutnya.
c) Sebagai leader untuk pitch selanjutnya.
d) Membawa tali untuk pemanjatan.
7. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya.
Setelah cleaner sampai pada pitch 1, lalu melakukan persiapan untuk melakukan pemanjatan ke pitch 2. Yang menjadi leader adalah orang yang menjadi cleaner pada saat pemanjatan ke pitch 1. Pada saat pemanjatan ke pitch 2, orang ketiga dan selanjutnya yang masih ada di bawah, melakukan pemanjatan/jumaring. Begitu seterusnya hingga akhir pemanjatan.
8. Turun Tebing
Setelah semua pemanjat telah mencapai target, maka yang harus dilakukan adalah rappeling (turun tebing). Untuk melakukan rappeling perlu membuat anchor untuk penambat tali. Rappeling dapat dilakukan dengan menggunakan tali tunggal atau tali ganda (double). Personil yang turun pertama kali harus membawa tali dan memasangnya pada pitch berikutnya. Persoinil terakhir sebaiknya memakai double rope rappeling dan tali dikalungkan pada anchor, sehingga dapat ditarik sesudah sampai di pitch bawah. Begitu selanjutnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rappeling :
a) Ujung tali harus disimpul.
b) Waspada terhadap rontokan batuan.
9. Pendataan Alat Setelah Pemanjatan
Di dasar tebing, setelah semua pemanjat turun, dilakukan pendataan alat-alat yang telah dipakai. Alat-alat apa saja yang sengaja ditinggal di atas dan pengecekan alat.
10. Pembuatan Topo
Topo adalah gambar atau sket jalur yang berhasil di panjat. Sket ini dilengkapi dengan data-data sebagai berikut :
a) Nama jalur
b) Lokasi
c) Jenis batuan tebing
d) Tinggi tebing
e) Sistem pemanjatan
f) Teknik pemanjatan
g) Waktu pemanjatan
h) Tingkat kesulitan (grade)
i) Data peralatan yang digunakan
j) Daftar pemanjat

1 komentar: